Kucing Jantan (Bab 1 – Lahir untuk Kehilangan)

Aku lahir, tepat di bawah dubur ibu. Seketika ada kekuatan yang membaur dengan semangat untuk berdiri. Tapi kakiku masih lemah, aku susah berdiri. Kurasakan kakiku gemeteran. Mh.. tampaknya memang mustahil aku menggerakan organku ini cepat-cepat.

Akhirnya aku alihkan ke daerah lain. Mataku, ya aku coba untuk membuka mataku. Memang sulit, tapi setidaknya lebih berhasil daripada saat aku mencoba bangun dengan kedua kaki. Tak lama, meski tetap dengan perjuangan, aku tetap dapat melihat. Buram, semua tampak seperti klise foto, tak jelas warnanya, tak begitu jelas rupanya. Semua tampak asing, terselip pikiran untuk kembali ke tempat sebelumnya.

Tempat yang sangat hangat dan berlimpah makanan. Kurang lebih dua bulan aku berada di tempat itu, aku benar-benar sungguh menikmatinya. Tapi sekarang situasinya lain, aku bahkan harus melakukan sebuah usaha yang bisa dibilang keras untuk pendatang baru sepertiku.

Kemudian aku belalakan mata, hingga semua terlihat agak lebih jelas. Pyas!! Cahaya matahari langsung memaksaku untuk menutup mata lagi. Tidak, aku tidak sanggup. Cahaya itu terlalu kuat, sangat kuat. Tampaknya, kapan-kapan saja aku latihan melihat lagi, tidak hari ini.

Ku coba bagian lain. Hidung, ya hidung, tidak terlalu sulit untuk menyium aroma di sekelilingku. Tidak perlu perjuangan yang terlalu berarti. Mfh…aroma-aroma ini aku anggap sebagai upacara penyambutan kedatanganku.

Saat aku sibuk mengendus, aku sadar ada aroma yang sangat dominan di tempat aku berbaring. Bau siapa ini? Kenapa saat aku mengendusinya aku merasakan perasaan sangat sayang pada pribadi yang mempunyai aroma ini.

Baru sebentar aku berjuang lagi untuk mengenali aroma ini, tiba-tiba ada benda empuk dan basah menyentuh dari ujung hidung sampai ujung ekorku. Saat benda empuk dan basah itu menuju ke arahku, dan saat benda itu menyentuh tubuhku, aku begitu sumringah. Kurasakan kehangatan dan ketulusan yang teramat dalam. Aku suka, aku suka..!

Perhatianku sudah tidak terlalu terfokus pada aroma dominant itu. Karena aku suka benda empuk yang basah itu. Aku endusi aromanya, m.. kenapa sepertinya aku sering sekali menyiumnya ya? Ah iya, rupanya inilah aroma dominant yang ada di sekelilingku. Di sandaran tidurku, di pangkal hidungku, di kakiku, bahkan sampai ekorku bagian ujung, benar-benar ujung. Tapi tetap saja aku masih belum bisa menjawab, aroma siapa ini..

Tiba-tiba ada suara berkata, Meoong.. (yang artinya : kau sudah lahir anakku..). AH! Aku terhentak, kaget. Suara ini sangat aku kenal. Bahkan lebih ku kenal dari aroma dominant tadi. Aku tidak perlu berpikir untuk mengetahui suara siapa itu. Karena itu sudah pasti suara ibuku. Aku sering mendengarnya saat masih berada di dalam ruang hangat yang nyaman itu.

Anehnya lagi, ucapan ramah itu keluar dari mulut yang berbau aroma dominant yang aku cium tadi. Kalau begitu, aroma dominant itu milik ibu. Akhirnya misteri aroma itu terpecahkan. Dan aku begitu bersyukur, karena pemillik aroma itu adalah ibuku sendiri.

Kemudian ada kekuatan yang lembut mendorongku ke tempat yang lebih hangat, selangkangan ibu. Di situ aku punya naluri untuk mendekati sebuah puting milik ibu. Meraihnya dan menghisap sari di dalamnya. Saat aku sedang menghisap, benda empuk dan basah yang belakangan aku tahu itu adalah lidah ibu terus membelai diriku. Terus membelai sampai sisa-sisa darah dari ari-ari tidak ada lagi di tubuhku.

Aku pun terus bertambah besar. Tanpa kehadiran seorang ayah, aku bertumbuh. Aku belajar segala hal yang harus diketahui seekor kucing. Mulai dari pencarian makanan dan musim kawin. Ibu menjelaskan itu semua kepadaku. Tidak hanya penjelasan teori, tapi juga diikuti dengan praktek.

Proses itu hanya dilakukan berdua saja, hanya aku dan ibu, tidak ada yang lain. Karena saudara kandungku langsung tidak bernafas sesaat setelah dia dilahirkan.

Suatu hari aku dan ibu sedang menuju ke sebuah pohon. Aku dan ibuku berniat untuk berlatih memanjat hari ini. Karena pohon tempat latihan memanjat yang paling cocok berada di seberang kota, kami harus menyeberang. Menyeberang aliran deras mobil yang lalu lalang.

Melihatnya saja aku sudah langsung bergidik. Tidak terbayangkan olehku, bila aku tertabrak salah satu kendaraan itu. Pasti akan sangat sakit sekali. Aku terus terpaku, tak berani melangkah.

Ibu yang melihatku menjadi seorang pengecut, langsung menegurku. Dia menyuruhku untuk segera menyeberang. Dengan tegas ia meyakinkan aku bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Bahwa aku hanya perlu yakin pada diriku sendiri, tidak perlu takut. Aliran deras itu tidak jauh, hanya butuh beberapa langkah saja dan aku akan sampai pada pinggir satunya. Hanya butuh sedikit waktu saja sampai aku selesai menyeberang. Tapi tetap saja, untuk anak kucing berumur 2 minggu sepertiku, aliran deras itu sangat menakutkan. Aku tetap terdiam dan tidak bergerak. Ibu marah, kemudian ia mendorongku. Dalam sekejap aku sudah berada di tengah-tengah aliran itu.

Aku kaget, aku bingung, aku terhentak. Saat aku berada di tengah ternyata keadaannya lebih menakutkan. Suara-suara klakson itu memperkeruh suasana. Sambil terus ketakutan, aku juga marah pada ibu. Kenapa dia tega melakukan ini padaku? Aku kan masih kecil. Apa dia bermaksud membunuhku? Apa dia tidak menginginkan dan menyayangi aku lagi? Tapi kenapa? Apa salahku? Ibu jahat! Ibu jahat! Pertanyaan jahat demi pertanyaan jahat dan umpatan keluar dari hatiku.

Aku tidak punya pilihan selain terus menyeberang, aku ingin segera keluar dari keadaan terjepit ini. Aku berlari, tidak terus berlari lurus, tidak terus berlari. Namun sesekali aku berhenti, berbelok, untuk menghindari kendaraan-kendaraan itu. Tidak aku sadari, aku sudah berada di pinggir satunya. Pinggir satunya! Itu artinya aku lolos dari maut! Aku bisa menyeberang! Aku berhasil! Tidak bisa menahan rasa senangku, aku terus berteriak sambil melihat ibu yang masih di pinggir satunya. Ia melihatku bangga sambil tersenyum. Senyumnya manis, senyum terindah di dunia ini. Meoooooooong…..! seruku.

Kemudian ibu segera menyusulku. Ia mulai menyeberang. Tapi berbeda denganku, tidak kulihat ekspresi terguncang di wajahnya. Tenang dan tetap melihat ke depan, sambil sesekali memandang kanan-kiri untuk menentukan langkah. Tampaknya sudah sering sekali ibu melakukan ini. Menyeberangi aliran deras ini.

Aku terus memandang ibu dan entah kenapa terasa lama sekali ibu sampai di tempatku berdiri. Lalu aku melihat lampu di perempatan jalan berubah warna, sepertinya warna merah. Hingga jalan itu tidak lagi penuh dengan aliran deras kendaraan, bahkan jalan itu jadi kosong. Tapi aneh, aku tidak bisa melihat ibuku yang tadinya berjalan lurus, berada tepat di depan pandanganku. Betapa terkejutnya aku saat melihat ibu sudah ada di lain tempat. Masih di jalan itu, tapi tidak di depan pandanganku lagi. Ia lebih ke kanan, tergeletak, dan ada cairan berwarna sama dengan lampu di perempatan jalan. Apa, apa yang terjadi pada ibuku?!! Tanpa pikir panjang aku langsung pergi ke tempat ibu.

Aku melihat ibu. Tapi ibu yang lain, ibu yang ini begitu lemah. Tidak ada optimisme yang aku lihat sebelumnya di matanya. Meskipun lain, aku yakin ini adalah ibuku. Aromanya sama, meski sedikit lebih amis.

Aku melihatnya diangkat oleh sebuah tangan manusia, menuju pinggir jalan. Aku mengikuti dia, aku ingin dia segera menurunkannya. Aku harus memastikan ada apa dengan ibuku. Hai manusia turunkan dia, ini sudah di pinggir jalan! Turunkan dia, cepat!! Manusia itu tidak mendengarku. Bahkan ia tidak peduli aku sudah menangis tersedu-sedu.. Aku juga bisa menangis, aku ingin ibuku! Turunkan dia, mau kau bawa kemana dia!! Hai Manusia!!

Dia tetap tidak mendengarku. Aku melihatnya, ibu memandangku dengan melas. Namun masih tetap ingin tersenyum. Ibuku, ibu yang cantik. Tapi, apa yang ingin dilakukan manusia ini? Tidak sadarkah dia, aku ini anaknya, aku ingin melihat ibuku. Hai Manusia, turunkan ibuku, aku mohon!! Namun sebaliknya, bukannya memberikan ibu kepadaku, manusia itu malah memasukan ibu ke kantong plastik hitam. Hai..apa yang kau lakukan?! Kemudian ia melempar kantong plastik itu ke selokan.

Aku pun langsung ikut melompat ke dalam selokan. Segera aku buka kantong plastik itu dengan susah payah. Berharap ibu masih tetap hidup saat aku buka plastik itu. Agar aku masih bisa melihat kedipan matanya untuk terakhir kali. Senyum terindahnya, dan semangatnya. Akhirnya plastik itu terbuka. Aku tarik lagi hingga ibu bisa terlihat seluruhnya.

Ibu masih sempat tersenyum padaku. Masih sempat mengedipkan matanya untukku. Kemudian aku mendekatkan kepalaku ke mulutnya, dan ia menjilat kepalaku. Terus menjilatiku, sampai aku tidak bisa mendengar dan mengendus nafas ibu lagi. Aku mengangkat kepalaku, dan melihat ibu dengan cermat.

Ekornya yang sudah tidak utuh, bulu-bulunya yang sebagian besar sudah berubah warna menjadi merah, perutnya yang terbuka dengan usus terburai, kakinya patah, dan salah satu kakinya penyet. Ibu masih tetap terlihat cantik. Ibu terkuat sepanjang zaman.

Aku terus berharap ini hanya mimpi, tidak sungguhan. Aku berharap esok hari aku masih bisa berlatih memanjat pohon lagi bersama ibu. Mungkin, saat ini aku perlu memejamkan mataku sebentar, dan besok aku akan mendapati puting susu ibu ada di hadapanku. Hingga aku bisa mengengguk sarinya.

Aku terbangun setelah tertidur semalaman. Pagi yang cerah, pikirku. Mataharinya begitu terik. Tapi kenapa ibu belum juga menjilatiku. Dengan berat aku buka mataku. Tak diragukan lagi, aku kaget dengan apa yang aku lihat. Bangkai ibu, hah! rupanya ini bukan mimpi. Ibu memang benar-benar sudah tidak hidup lagi. Aroma ibu sudah lenyap, bersamaan dengan senyum dan semangatnya.

Sekarang aku adalah seekor anak kucing berumur dua minggu yang sebatangkara. Tidak, aku tidak mau sendiri. Ibu..aku masih berharap kau dapat hidup kembali.

Aku terus terpuruk. Tak peduli dengan perutku yang berteriak-teriak minta makan. Ibu adalah personifikasi hidupku. Tak ada ibu berarti tidak ada aku. Bagaimana mungkin aku harus menjalani hidup sendiri. Aku akan tetap disini, karena aku tidak mau melanjutkan hidupku lagi! Harapanku lenyap, semangatku hilang.

Memasuki malam ketiga yang kosong aku bermimpi. Aku melihat ibu. Tapi dia tidak mau melihatku. Aku kejar dia, tapi dia lari. Aku panggil dia, dia tidak mau menoleh. Sekalipun menoleh, ia tidak tersenyum padaku, malah menunjukan wajah benci padaku. Aku berteriak, merengek, memohon ia tidak menjauh. Namun semakin aku berteriak, merengek, dan memohon, ia malah semakin menunjukan mimic kebenciannya kepadaku. Aku tidak mau melihat wajah itu lagi, aku muak! Aku benci ibu yang seperti itu. Aku tahu ini mimpi, ini tidak penting untukku. Kali ini aku harus benar-benar bangun.

Di malam kosong ini, aku terbangun. Bukan di saat yang tepat, karena saat ini sudah tengah malam. Aku langsung melihat bangkai ibu yang sudah dikelilingi lalat. Aku terus memandanginya, dan tidak lama kemudian aku pergi. Pergi meninggalkan ibu yang sudah tak bernyawa.

Ibu Si Kucing Jantan yang sudah Tak Bernyawa

Ibu Si Kucing Jantan yang sudah Tak Bernyawa

Aku tertunduk seraya terus berjalan. Semua indraku menjadi pasif. Semuanya jadi kosong. Bahkan aku tidak bisa meraung, meski sebenarnya aku ingin. Pikiranku terus tertuju pada mimpi barusan.

Karena mimpi itu, aku jadi merasa bodoh dengan diriku akhir-akhir ini. Untuk apa aku merengek? Untuk apa aku berteriak dan memohon ibu bangun lagi? Bukankah itu adalah hal yang tidak mungkin? Kenapa aku harus menjadi seterpuruk ini? Kenapa aku menjadi tersudut oleh diriku sendiri? Kenapa aku harus mendalami kemalangan ini? Bukankah ini sama sekali tidak penting? Lagipula nanti saat usiaku sudah 30 hari, ibu pasti akan meninggalkan aku. Lagipula sebelum mempunyai aku, ibu juga sendiri. Tapi lihat ibu, senyumnya indah, semangatnya membara. Kepribadiannya tetap cantik meski hidupnya sendirian.

Kenapa aku yang dilahirkan sebagai kucing jantan, jadi lebih cengeng dari ibuku yang hanya seekor kucing betina? Bukankah seharusnya aku bisa lebih kuat daripada ibu? Hah, aku begitu bodoh! Mulai saat ini, aku ya aku. Aku tidak perlu terlalu sedih. Masih banyak hal yang belum aku pelajari. Masih banyak hal yang belum aku lakukan.

Aku, aku akan menjadi kucing jantan yang seharusnya.

 

– To be Continued –

 

Advertisements

About kharismagita

The truth is changing by the time we are growing up. What you think was the truth when you were 15 years old, might change when you reached 21 years old. But not everyone is ready for changes you have. Confrontation will be the first reaction. Now, how will you take that confrontation will determine how strong you are and who you really are. When your life is not according to what your parents have planned. When you choose your own way. When you prefer to be honest to your self instead of trying to make your people happy. They will hate you, but you don't hate them back. Don't even try to make them understand, because it will only waste your energy and positivity. Show them you are still the same person. What different now is you are being honest. No more hypocrisy, just you - being true to your self. And remember you are not alone. Because there are myself and all other million people in the world just like you. Being punished for being our self.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s